Banyak teknik konseling yang dapat diajarkan kepada
mahasiswa atau calon konselor, diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut:[1]
1. Attending,
disebut juga sebagai perilaku menghampiri konseli yang mencakupi komponen
kontak mata, bahasa tubuh dan bahasa lisan. Contoh penampilan (Attending) yang
baik:
a.
Kepala; melakukan anggukan jika setuju.
b.
Ekspresi wajah; tenang, ceria, senyum.
c. Posisi tubuh; agak condong ke arah konseli, jarak
konselor dan konseli agak dekat, duduk akrab, berhadapan atau berdampingan
2. Empati,
ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan konseli, merasa dan
berpikir bersama konseli. Empati ada dua macam, yaitu:
a.
Empati primer: suatu bentuk empati yang hanya
memahami perasaan, pikiran, keinginan dan pengalaman konseli. Tujuannya agar
konseli terlibat pembicaraan dan terbuka.
b. Empati tingkat tinggi: apabila pemahaman konselor
akan perasaan, pikiran, keinginan dan pengalaman konseli lebih mendalam dan
menyentuh konseli karena konselor ikut dengan perasaan tersebut.
3. Refleksi,
keterampilan konselor untuk memantulkan kembali kepada konseli tentang
perasaan, pikiran, keinginan dan pengalaman konseli sebgai hasil pengamatan
konselor terhadap perilaku verbal maupun nonverbal konseli. Kalimat yang biasa
digunakan seperti:
“Nampaknya yang anda katakana adalah…”,
“Barangkali anda
merasa bahwa…”.
Contoh
percakapan:
Kl: Temanku sangat jahat, Seharusnya ia tidak mengkhianatiku. Aku tidak akan mau menegurnya lagi.
Ko:
Sepertinya kamu sungguh-sungguh marah
4. Eksplorasi,
suatu keterampilan konselor untuk menggali perasaan, pikiran, keinginan dan
pengalaman konseli. Hal ini penting karena kebanyakan konseli menyimpan rahasia
batin, menutup diri atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya dengan terus
terang. Teknik eksplorasi memungkinkan konseli untuk bebas berbicara tanpa rasa
takut, tertekan dan terancam. Eksplorasi terdiri dari tiga jenis, yaitu:
a. Eksplorasi perasaan, keterampilan untuk menggali
perasaan konseli yang tersimpan
b. Eksplorasi pengalaman, keterampilan konselor untuk
menggali pengalaman-pengalaman yang telah dilalui konseli.
c. Eksplorasi pikiran, keterampilan konselor untuk
menggali ide, pikiran dan pendapat konseli.
5. Menangkap pesan utama (Paraphrasing), untuk memudahkan konseli
memahami ide, perasaan dan pengalamannya, seorang konselor perlu menangkap pesan
utamanya dan menyatakannya secara sederhana dan mudah dipahami dengan bahasa
konselor sendiri.
6. Bertanya untuk membuka percakapan (Open question), kebanyakan calon konselor sulit
untuk membuka percakapan dengan konseli. Hal ini karena sulit menduga apa yang
dipikirkan konseli sehingga pertanyaan menjadi pas. Untuk memudahkan membuka
percakapan seorang calon konselor dilatih keterampilan bertanya dalam bentuk
open-ended yang memungkinkan munculnya pernyataan-pernyataan baru dari konseli.
Untuk memulai bertanya, sebaiknya tidak menggunakan kata-kata mengapa dan apa
sebabnya. Pertanyaan seperti ini akan menyulitkan konseli membuka wawasannya.
Disamping itu, akan menyulitkan konseli jika dia tidak tahu apa sebab suatu
kejadian atau sengaja dia tutupi karena malu. Contoh:
“Apakah saudara merasa
ada sesuatu yang ingin kita bicarakan sekarang?”,
“Bagaimana perasaan anda saat
itu?”,
“Dapatkah anda mengemukakan hal
itu selanjutnya?”
7. Mengarahkan (Directing), untuk mengajak konseli berpartisipasi secara penuh di dalam proses konseling, perlu ada ajakan dan
arahan dari konselor. Keterampilan yang diperlukan untuk maksud tersebut adalah
mengarahkan (directing), yaitu suatu keterampilan konseling yang mengatakan
kepada konseli agar dia berbuat sesuatu. Misalnya menyuruh konseli untuk bermain
peran.
Contoh: saat konseli mengatakan bahwa ayahnya sering marah-marah, maka
konselor akan memintanya untuk memerankan sikap ayahnya dengan kata-kata
“Dapatkah saudara mencobakan di depan saya bagaimana sikap dan kata-kata ayah
saudara jika memarahi anda?”
8. Menyimpulkan sementara (Summarizing), supaya pembicaraan maju secara
bertahap dan arah pembicaraan makin jelas, maka setiap periode waktu tertentu
konselor bersama konseli perlu menyimpulkan pembicaraan. Tujuan summarizing ini
adalah untuk memberikan kesempatan pada konseli mengambil kilas balik
(feedback) tentang apa yang telah dibicarakan, untuk menyimpulkan kemajuan
hasil pembicaraan secara bertahap, untuk meningkatkan kualitas diskusi dan
untuk memperjelas fokus pada wawancara konseling.
Contoh kalimat: “setelah kita
berdiskusi panjang, alangkah baiknya kita simpulkan dulu agar hasil pembicaraan
lebih jelas sampai saat ini”.
9. Memimpin (Leading), agar pembicaraan dalam wawancara konseling tidak
menyimpang, seorang konselor harus mampu memimpin arah pembicaraan sehingga
nantinya mancapai tujuan. Contoh:
Konseli:
“Saya mungkin berpikir juga tentang masalah saya dan kakak saya…”
Konselor:
“Sampai saat ini kita akan membahas permasalahan saudara tentang kuliah sambil
bekerja. Dan untuk masalah kakak saudara akan kita selesaikan setelah masalah
kuliah sambil kerja ini”
10. Fokus,
seorang konselor yang efektif harus mampu membuat fokus melalui perhatiannya
yang terseleksi terhadap pembicaraan dengan konseli. Fokus membantu konseli
memusatkan pembicaraan pada pokok masalah (baik fokus pada diri konseli, orang
lain, pada topik atau budaya).
Contoh: “Sari, anda yakin apa yang anda
lakukan?”,
“Fajar telah membuat kamu menderita?, terangkanlah tentang dia”,
“Kamu ingin aborsi?, sebaiknya pikirkan baik-baik terlebih dahulu”,
“Mungkin
budaya mengalah terhadap laki-laki harus diatasi”.
11. Konfrontasi,
suatu teknik yang menantang konseli untuk melihat adanya perbedaan antara
perkataan dan bahasa tubuhnya. Tujuan teknik ini adalah agar konseli bisa jujur
dengan dirinya, mengangkat potensi konseli, dan membawa konseli menyadari
adanya konflik di dalam dirinya.
12. Diam (silent), teknik digunakan saat konselor menunggu konseli
yang sedang berpikir. Tujuan diam adalah sebagai proses jika konseli berbicara
berbelit-belit, dan untuk menunjang perilaku attending dan empati sehingga
konseli bebas berbicara.
13. Mengambil inisiatif, ini perlu dilakukan konselor
saat konseli tidak bersemangat dan sering diam. Contoh: “Baiklah, saya pikir
anda mempunyai keputusan namun masih belum keluar, coba anda renungkan”.
14. Memberi nasihat, hal ini dilakukan saat konseli memintanya.
Walaupun demikian konselor juga harus mempertimbangkannya, apakah pantas untuk
memberi nasihat atau tidak.
15. Pemberian informasi, dalam hal ini konselor memberi
informasi yang diminta oleh konseli sama halnya dengan nasihat. Jika konselor
tidak memiliki informasi sebaiknya jujur.
16. Merencanakan, menjelang akhir sesi konseling seorang konselor
harus dapat membantu konseli untuk dapat membuat rencana berupa suatu program
untuk action, perbuatannya yang produktif bagi kemajuan dirinya.
17. Menyimpulkan, pada akhir sesi konseling konselor membantu
konseli untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut perasaan konseli,
rencana, dan pokok-pokok yang akan dibicarakan di sesi selanjutnya.[2]
18. Pertanyaan tertutup (Closed Questions), bentuk-bentuk pertanyaan ini
biasanya dijawab dengan singkat oleh konseli seperti “Ya” atau “tidak”.
Pertanyaan tertutup dimulai dengan kata-kata “apakah, adakah….”
19. Interpretasi, seorang konselor menggunakan teori konseling dan
menyesuaikannya dengan permasalahan konseli. Hal ini dilakukan untuk
menghindari adanya subjektivitas dalam hubungan konseling. Contoh:
Kl:
“saya pikir lebih baik saya mati saja. Tidak ada gunanya saya hidup”
Ko:
“Hidup ini membutuhkan keberanian kita untuk menjalaninya. Kalau anda berpikir
anda telah dikucilkan oleh semua orang, itu tidak benar. Anda sendirilah yang
membuat anda terkucil melalui pemikiran anda yang seperti itu. jika anda berani
menghadapi kenyataan bahwa anda menyesal dan anda yakin bisa berubah lebih
baik, inilah saatnya anda membuktikan, bukan begitu?”
20. Menjernihkan (Clarifying), saat konseli menyampaikan
permasalahannya dengan kurang jelas bahkan degan ragu, maka tugas konselor
adalah untuk melakukan klarifikasi guna memperjelas apa yang disampaikan
konseli. Contoh:
Kl:
“Saya tidak mengerti sebenarnya siapa yang harus saya ikuti?, ibu saya atau
ayah?”
Ko:
“Bisakah anda sampaikan kepada saya, siapa di antara mereka yang selalu
mengambil keputusan dalam keluarga?”
21. Memudahkan (Facilitating), keterampilan membuka komunikasi
agar konseli dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan,
pikiran dan pengalamannya secara bebas. Sehingga komunikasi partisipasi
meningkat dan proses konseling berjalan efektif.[3]
Proses konseling
terdiri dari 3 tahapan, yaitu: Tahapan awal atau tahap mendefinisikan masalah, Tahap
pertengahan atau tahap kerja, serta Tahapan akhir atau tahap perubahan dan
tindakan. Setiap tahapan konseling ada teknik-teknik konseling yang dapat
digunakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar