Sabtu, 18 April 2020

Ragam Teknik Konseling | Tugas Mikro Konseling


Banyak teknik konseling yang dapat diajarkan kepada mahasiswa atau calon konselor, diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut:[1]
1. Attending, disebut juga sebagai perilaku menghampiri konseli yang mencakupi komponen kontak mata, bahasa tubuh dan bahasa lisan. Contoh penampilan (Attending) yang baik:
a.    Kepala; melakukan anggukan jika setuju.
b.    Ekspresi wajah; tenang, ceria, senyum.
c.   Posisi tubuh; agak condong ke arah konseli, jarak konselor dan konseli agak dekat, duduk akrab, berhadapan atau berdampingan

2. Empati, ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan konseli, merasa dan berpikir bersama konseli. Empati ada dua macam, yaitu:
a.    Empati primer: suatu bentuk empati yang hanya memahami perasaan, pikiran, keinginan dan pengalaman konseli. Tujuannya agar konseli terlibat pembicaraan dan terbuka.
b.   Empati tingkat tinggi: apabila pemahaman konselor akan perasaan, pikiran, keinginan dan pengalaman konseli lebih mendalam dan menyentuh konseli karena konselor ikut dengan perasaan tersebut.
 
3. Refleksi, keterampilan konselor untuk memantulkan kembali kepada konseli tentang perasaan, pikiran, keinginan dan pengalaman konseli sebgai hasil pengamatan konselor terhadap perilaku verbal maupun nonverbal konseli. Kalimat yang biasa digunakan seperti: 
            “Nampaknya yang anda katakana adalah…”,
            “Barangkali anda merasa bahwa…”.
Contoh percakapan:
Kl: Temanku sangat jahat, Seharusnya ia tidak mengkhianatiku. Aku tidak akan mau menegurnya lagi.
Ko: Sepertinya kamu sungguh-sungguh marah

4. Eksplorasi, suatu keterampilan konselor untuk menggali perasaan, pikiran, keinginan dan pengalaman konseli. Hal ini penting karena kebanyakan konseli menyimpan rahasia batin, menutup diri atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya dengan terus terang. Teknik eksplorasi memungkinkan konseli untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam. Eksplorasi terdiri dari tiga jenis, yaitu:
a. Eksplorasi perasaan, keterampilan untuk menggali perasaan konseli yang tersimpan
b. Eksplorasi pengalaman, keterampilan konselor untuk menggali pengalaman-pengalaman yang telah dilalui konseli.
c. Eksplorasi pikiran, keterampilan konselor untuk menggali ide, pikiran dan pendapat konseli.

5. Menangkap pesan utama (Paraphrasing), untuk memudahkan konseli memahami ide, perasaan dan pengalamannya, seorang konselor perlu menangkap pesan utamanya dan menyatakannya secara sederhana dan mudah dipahami dengan bahasa konselor sendiri.

6. Bertanya untuk membuka percakapan (Open question), kebanyakan calon konselor sulit untuk membuka percakapan dengan konseli. Hal ini karena sulit menduga apa yang dipikirkan konseli sehingga pertanyaan menjadi pas. Untuk memudahkan membuka percakapan seorang calon konselor dilatih keterampilan bertanya dalam bentuk open-ended yang memungkinkan munculnya pernyataan-pernyataan baru dari konseli. Untuk memulai bertanya, sebaiknya tidak menggunakan kata-kata mengapa dan apa sebabnya. Pertanyaan seperti ini akan menyulitkan konseli membuka wawasannya. Disamping itu, akan menyulitkan konseli jika dia tidak tahu apa sebab suatu kejadian atau sengaja dia tutupi karena malu. Contoh: 
      “Apakah saudara merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan sekarang?”,  
      “Bagaimana perasaan anda saat itu?”, 
      “Dapatkah anda mengemukakan  hal itu selanjutnya?”   

7. Mengarahkan (Directing), untuk mengajak konseli berpartisipasi secara penuh di dalam proses konseling, perlu ada ajakan dan arahan dari konselor. Keterampilan yang diperlukan untuk maksud tersebut adalah mengarahkan (directing), yaitu suatu keterampilan konseling yang mengatakan kepada konseli agar dia berbuat sesuatu. Misalnya menyuruh konseli untuk bermain peran. 
   Contoh: saat konseli mengatakan bahwa ayahnya sering marah-marah, maka konselor akan memintanya untuk memerankan sikap ayahnya dengan kata-kata “Dapatkah saudara mencobakan di depan saya bagaimana sikap dan kata-kata ayah saudara jika memarahi anda?”

8. Menyimpulkan sementara (Summarizing), supaya pembicaraan maju secara bertahap dan arah pembicaraan makin jelas, maka setiap periode waktu tertentu konselor bersama konseli perlu menyimpulkan pembicaraan. Tujuan summarizing ini adalah untuk memberikan kesempatan pada konseli mengambil kilas balik (feedback) tentang apa yang telah dibicarakan, untuk menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap, untuk meningkatkan kualitas diskusi dan untuk memperjelas fokus pada wawancara konseling. 
    Contoh kalimat: “setelah kita berdiskusi panjang, alangkah baiknya kita simpulkan dulu agar hasil pembicaraan lebih jelas sampai saat ini”.

9. Memimpin (Leading), agar pembicaraan dalam wawancara konseling tidak menyimpang, seorang konselor harus mampu memimpin arah pembicaraan sehingga nantinya mancapai tujuan. Contoh:
Konseli: “Saya mungkin berpikir juga tentang masalah saya dan kakak saya…”
Konselor: “Sampai saat ini kita akan membahas permasalahan saudara tentang kuliah sambil bekerja. Dan untuk masalah kakak saudara akan kita selesaikan setelah masalah kuliah sambil kerja ini”

10. Fokus, seorang konselor yang efektif harus mampu membuat fokus melalui perhatiannya yang terseleksi terhadap pembicaraan dengan konseli. Fokus membantu konseli memusatkan pembicaraan pada pokok masalah (baik fokus pada diri konseli, orang lain, pada topik atau budaya). 
    Contoh: “Sari, anda yakin apa yang anda lakukan?”, 
     “Fajar telah membuat kamu menderita?, terangkanlah tentang dia”, 
    “Kamu ingin aborsi?, sebaiknya pikirkan baik-baik terlebih dahulu”, 
     “Mungkin budaya mengalah terhadap laki-laki harus diatasi”.

11. Konfrontasi, suatu teknik yang menantang konseli untuk melihat adanya perbedaan antara perkataan dan bahasa tubuhnya. Tujuan teknik ini adalah agar konseli bisa jujur dengan dirinya, mengangkat potensi konseli, dan membawa konseli menyadari adanya konflik di dalam dirinya.

12. Diam (silent), teknik digunakan saat konselor menunggu konseli yang sedang berpikir. Tujuan diam adalah sebagai proses jika konseli berbicara berbelit-belit, dan untuk menunjang perilaku attending dan empati sehingga konseli bebas berbicara.

13. Mengambil inisiatif, ini perlu dilakukan konselor saat konseli tidak bersemangat dan sering diam. Contoh: “Baiklah, saya pikir anda mempunyai keputusan namun masih belum keluar, coba anda renungkan”.

14. Memberi nasihat, hal ini dilakukan saat konseli memintanya. Walaupun demikian konselor juga harus mempertimbangkannya, apakah pantas untuk memberi nasihat atau tidak. 

15. Pemberian informasi, dalam hal ini konselor memberi informasi yang diminta oleh konseli sama halnya dengan nasihat. Jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya jujur.

16. Merencanakan, menjelang akhir sesi konseling seorang konselor harus dapat membantu konseli untuk dapat membuat rencana berupa suatu program untuk action, perbuatannya yang produktif bagi kemajuan dirinya.

17. Menyimpulkan, pada akhir sesi konseling konselor membantu konseli untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut perasaan konseli, rencana, dan pokok-pokok yang akan dibicarakan di sesi selanjutnya.[2]

18. Pertanyaan tertutup (Closed Questions), bentuk-bentuk pertanyaan ini biasanya dijawab dengan singkat oleh konseli seperti “Ya” atau “tidak”. Pertanyaan tertutup dimulai dengan kata-kata “apakah, adakah….”

19. Interpretasi, seorang konselor menggunakan teori konseling dan menyesuaikannya dengan permasalahan konseli. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya subjektivitas dalam hubungan konseling. Contoh:
Kl: “saya pikir lebih baik saya mati saja. Tidak ada gunanya saya hidup”
Ko: “Hidup ini membutuhkan keberanian kita untuk menjalaninya. Kalau anda berpikir anda telah dikucilkan oleh semua orang, itu tidak benar. Anda sendirilah yang membuat anda terkucil melalui pemikiran anda yang seperti itu. jika anda berani menghadapi kenyataan bahwa anda menyesal dan anda yakin bisa berubah lebih baik, inilah saatnya anda membuktikan, bukan begitu?”

20. Menjernihkan (Clarifying), saat konseli menyampaikan permasalahannya dengan kurang jelas bahkan degan ragu, maka tugas konselor adalah untuk melakukan klarifikasi guna memperjelas apa yang disampaikan konseli. Contoh:
Kl: “Saya tidak mengerti sebenarnya siapa yang harus saya ikuti?, ibu saya atau ayah?”
Ko: “Bisakah anda sampaikan kepada saya, siapa di antara mereka yang selalu mengambil keputusan dalam keluarga?”

21. Memudahkan (Facilitating), keterampilan membuka komunikasi agar konseli dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran dan pengalamannya secara bebas. Sehingga komunikasi partisipasi meningkat dan proses konseling berjalan efektif.[3]

Proses konseling terdiri dari 3 tahapan, yaitu: Tahapan awal atau tahap mendefinisikan masalah, Tahap pertengahan atau tahap kerja, serta Tahapan akhir atau tahap perubahan dan tindakan. Setiap tahapan konseling ada teknik-teknik konseling yang dapat digunakan.


[1] Abu Bakar M. Luddin, Dasar-dasar Konseling, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2010), hlm. 175
[2] Abu Bakar M. Luddin, Dasar-dasar Konseling, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2010), Hlm. 175-186
[3] Namora Lumongga, Memahami dasar-dasar konseling, (Jakarta: Kencana, 2011), Hlm. 97-103

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mimpi Kamu Ketinggian, Why not??

“Mimpi jangan tinggi-tinggi, nanti jatoh sakit” “Ngapain mimpi tinggi-tinggi, mending yang realistis aja, nanti malah stress kalau ga terc...